Rabu, 21 Oktober 2015



TANDA TANDA TAKWA

          
          Siapa orang bertaqwa ? Imam ath-Thabari, saat menafsirkan  QS Al-Baqarah ayat 2, mengutip sejumlah pernyataan tentang hakikat orang-orang bertaqwa.
 Al-Hasan, misalnya menyatakan, “ orang-orang bertaqwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang Allah haramkan atas mereka dan melaksanakan apa saja kewajiban yang Allah titahkan atas mereka”.
            Ibn Abbas berkata, “ orang-orang bertaqwa adalah orang-orang yang khawatir terhadap azab Allah ‘Azza Wajala jika meninggalkan petunjuk-Nya yang telah mereka ketahui dan mengharapkan rahmat-Nya dengan membenarkan apa saja yang datang kepada dirinya (berupa Al Qur’an).”
            Ibn Mas’ud menuturkan dari sekolompok sahabat Nabi SAW, bahwa orang-orang bertaqwa adalah orang-orang Mukmin.
            Abu Bakr ‘ayyas berkata, “Orang-orang bertaqwa adalah mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.” Demikian pula disepakati oleh Al-A’masyi.
            Qatadah berkata “ Orang-orang bertaqwa adalah mereka yang disifati dengan sifat-sebagaiamana dalam ayat berikutnya, pen.-yaitu: orang yang  yang mengimanai hal yang gaib, menegakkan shalat dan menginfakkan sebagian reski yang telah Allah liimpahkan kepada mereka.”
            Ibn Abbas juga menyatakan bahwa orang-orang bertaqwa adalah  mereka yang takut menyekutukan Allah SWT dan mengamalkan apa saja yang telah Allah SWT wajibkan atas mereka (lihat: Ath-Thabari, Jami’al-Bayan li Ta’wil al-qur’an,1/232-233).
            Al-qur’an pun banyak mengungkap ciri orang-orang bertaqwa, diantaranya sebagaimana dinyatakan dalam QS Surah Al Baqarah ayat 3-5. Demikian juga Al Hadits. Begitupun yang dinyatakan oleh para Sahabat dan  banyak ulama dari generasi salafush-shalih.
 Diantaranya adalah oleh al-Hasan. Al Hasan berkata, “Orang bertaqwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui, yakni: jujur/benar dalam berbicara; senantiasa menunaikan amanah; selalu memenuhi janji; rendah hati dan tidak sombong; senantiasa menjaga silaturahmi; selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin; memelihara diri dari kaum wanita; berakhlak baik; memiliki ilmu yang luas; senantiasa bertaqarrub kepada ALLAH.” (Ibn Abi ad-Dunya, Al-Hilm, 1/32).
            Terkait jujur dalam bicara, senantiasa menunaikan amanah dan selalu memenuhi janji, Rasulullah SAW pernah bersabda, “ ada empat perkara yang siapa saja yang termasuk di dalamnya maka dia benar-benar orang-orang munafik, meski ia sholat atau puasa atau mengklaim dirinya Muslim. Jika ia memilki satu saja dari empat perkara tersebut maka ia memiliki  salah satu tanda kemunafikan hingga ia meninggalkannya: jika ia berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia ingkari; jika diberi amanah, ia khianati; jika ia membuat kesepakatan, ia langgar sendiri,” (Al-Ghazali, Al-Ihya’ III/272).
            Terkait taqwa pula, Wahab bin Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al- Awwam pernah menulis surat yang berisi nasehat untuk dirinya. Di dalam surat itu dinyatakan, Amma ba’du. Sesungguhnya orang bertaqwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun dirinya sendiri, yakni; sabar dalam menanggung derita, ridho terhadap qadha’, mensyukuri nikmat dan merendahkan diri (tunduk) di hadapan hukum-hukum Al Qur’an.(Ibn Al- Jauzi, shifat ash-Shafwah, 1/170; Abu Nu’aim al-Asbahani, hilya Awilya,1/177).
            Muhammad bin Husain juga pernah menyatakan, “Seorang mukmin (yang bertaqwa) itu memiliki empat tanda: kata-katanya adalah dzikir; diamnya adalah tafakur; pandangannya adalah ibrah; dan ilmunya adalah kebaikan.” (Abu Nu’aim al Asbahani, Hilyah Awliya’, IV/354)
Bertaqwalah kita dengan sebenar-benarnya takwa hanya kepada ALLAH AZZA WAJALLA, dengan menjalankan syariatnya secarah kaffah (keseluruhan) sebagaiman ALLAH perintahkan pada orang-orang yang beriman untuk berislam secara totalitas yakni di surah Al-Baqarah ayat 208 yang artinya  “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Lihatlah dimasa saat ini dengan sistem KAPITALIS LIBERAL DEMOKRASI yang notabennya adalah hasil pemikiran orang-orang kafir yang tersesat secara nyata dan mereka sangat jelas diterangkan dalam AL-QUR’AN mereka adalah penghuni-penghuni neraka, lalu mengapa saat ini orang-orang yang mengaku ISLAM, yang mengaku bahwa ALLAH adalah TUHANNYA, yang mengaku RASULULLAH MUHAMMAD adalah UTUSAN ALLAH malah mengikuti paham-paham kafir tersebut yang begitu sangat nyata kesesatannya.
Dan yang lebih tragis dan sangat tragis, ketika mereka diseruh untuk IMAN sebenar-benarnya IMAN dan TAKWA sebenar-benarnya TAKWA kepada ALLAH SWT, untuk Mengembalikan Kehidupan Islam dengan penerapan syariat ALLAH secara totalitas (kaffah) melalui sebuah INSTITUSI yakni DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH, yang sesuai dengan MANHAJ KENABIAN. Sebagaimana dalam hadis Rasulullah bersabda “..... dan akan kembali KHILAFAH yang mengikuti Manhaj Kenabian” (HR. Ahmad). Orang-orang muslim sendiri yang menolak dan menentang itu, bahkan mereka mengatakan itu adalah sebuah pemberontakan dan yang lebih mencengangkan mereka mengatakan seruan itu adalah sesat dan haram. Naudzu billah.
Inilah bukti nyata akan kebenaran ALLAH SWT sebagaimana firmannya dalam Al-Qur’an Surah Ali-Imran ayat 149 yang artinya “ Wahai orang-orang yang beriman ! jika kamu menaati orang-orang kafir, niscaya mereka akan mengembalikan kamu kebelakang (murtad), maka kamu akan kembali menjadi orang-orang yang rugi”
Dari ayat tersebut, bukankah saat ini kaum muslimin mentaati (mengikuti) orang-orang kafir dengan menjalankan hampir semua aturan-aturan mereka, jadi sangatlah jelas orang-orang yang mentaati rang-orang kafir sungguh mereka telah keluar dari ISLAM (murtad) dan hanya orang-orang kafir yang menentang Islam sejak diturunkannya kepada Rasulullah sampai saat ini. Orang-orang yang mengaku muslim malah menentang penerapan syariat ALLAH secara totalitas dengan beraneka DALIH, ada yang mengatakan bahwa aturan Islam tidak sesuai zaman lagi, ada juga yang mengatakan bahwa syariat Islam tidak bisa menyelesaikan Problematika umat saat ini. Na’udzu billah mindzalik.
Inilah bukti dikala mereka telah terkafirkan oleh sistem KAPITALIS LIBERALIS DEMOKRASI, dimana mereka mengeluarkan statement yang bertentangan dengan akidah mereka yakni akidah ISLAM.  Bukankah rasulullah mengatakan “ barang siapa yang mengikuti suatu kaum maka sungguh dia telah menjadi kaum itu “. Inilah bukti dikala orang-orang yang merasa Islam tapi mereka bukanlah Islam, namun saat ini mereka adalah orang-orang kafir karena telah mengikuti pemahaman/pemikiran orang-orang kafir.
Dan inilah yang sangat berbahaya dikala kita telah kafir dihadapan ALLAH tapi kita masih merasa beriman.  RENUNGKANLAH !!!!
Masih kurang bukti !!!
Saya tambahkan buktinya : dikala kaum muslim mengimani sebagian isi Al-Qur’an dan mengingkari sebagian yang lain maka merekalah orang yang sebenarnya kafir, sebagaimana tercantum dala surah An-Nisa ayat 150 dan 151 yang artinya “150. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami ingkar terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), 151. merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.
Bukankah didalam Al-Qur’an banyak hukum-hukum ALLAH yang belum kita laksanakan,
 HUKUM PERZINAHAN DAN MENCURI
      Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman (AN-NUR:2)
       Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (AL-MAIDAH: 38)
HUKUM  MEMBUNUH  
§  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(AL BAQARAH :178 )

HUKUM TERHADAP PERUSUH DAN PENGACAU KEAMANAN
§  Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka peroleh siksaan yang besar. (AL-MAIDAH:33)

Dan ingat selama fardhu kifayah belum kita laksanakan maka selama itu juga kaum muslimin berdosa, maka dari itu rasulullah berpesan dalam haditsnya “Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah ra. ia berkata : “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,"Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat" Rasulullah bersabda, "Saya memberi wasiayat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid'ah itu sesat." (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih) 
Bid’ah yang dimaksud disini ialah sesuatu yang diada-adakan tanpa didasari oleh kebenaran yakni sumber hukum Islam (Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmah Sahabat dan Qiyas) artinya dikala apa yang diadakan atau sesuatu yang baru bertentangan dengan sumber hukum Islam maka itulah yang disebut bid’ah atau sesat dan sesuatu yang baru dan tidak bertentangan dengan sumber hukum Islam maka itu boleh dilakukan, tetapi ingat sesuatu yang boleh bisa menuju pada makruh dan keharaman. Dan Rasulullah menyarankan pada kaum muslimin untuk tidak terjerumus kepada sesuatu yang mubah (boleh) karena akan dikhwatirkan kaum muslimin cenderung melakukan yang mubah yang tak ada nilai amal pahala dari sesuatu yang mubah itu, ketimbang melakukan yang wajib (yang jelas pahalanya bila dikerjakan dan jelas dosanya bila ditinggalkan) dan sunnah (yang jelas pahalanya bila dikerjakan dan rugi bila ditinggalkan karena tidak mendapat pahala walaupun tidak mendapat dosa bila ditinggalkan.
Dari penjelasan di atas, silahkan anda menyimpulkan sudah bertakwakah  kita saat ini ? Apakah Khilafah sesat atau sebaliknya ?
 Selamat menyimpulkan !!!
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar