TANDA
TANDA TAKWA
Siapa orang bertaqwa ? Imam
ath-Thabari, saat menafsirkan QS
Al-Baqarah ayat 2, mengutip sejumlah pernyataan tentang hakikat orang-orang
bertaqwa.
Al-Hasan,
misalnya menyatakan, “
orang-orang bertaqwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang
Allah haramkan atas mereka dan melaksanakan apa saja kewajiban yang Allah
titahkan atas mereka”.
Ibn Abbas berkata, “ orang-orang bertaqwa adalah
orang-orang yang khawatir terhadap azab Allah ‘Azza Wajala jika meninggalkan petunjuk-Nya
yang telah mereka ketahui dan mengharapkan rahmat-Nya dengan membenarkan apa
saja yang datang kepada dirinya (berupa Al Qur’an).”
Ibn Mas’ud
menuturkan dari sekolompok sahabat Nabi SAW, bahwa orang-orang bertaqwa adalah
orang-orang Mukmin.
Abu Bakr ‘ayyas berkata, “Orang-orang bertaqwa adalah mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.”
Demikian pula disepakati oleh Al-A’masyi.
Qatadah berkata “ Orang-orang bertaqwa adalah mereka
yang disifati dengan sifat-sebagaiamana dalam ayat berikutnya, pen.-yaitu:
orang yang yang mengimanai hal yang
gaib, menegakkan shalat dan menginfakkan sebagian reski yang telah Allah
liimpahkan kepada mereka.”
Ibn Abbas juga menyatakan bahwa orang-orang bertaqwa adalah mereka yang takut menyekutukan Allah SWT dan mengamalkan
apa saja yang telah Allah SWT wajibkan atas mereka (lihat: Ath-Thabari,
Jami’al-Bayan li Ta’wil al-qur’an,1/232-233).
Al-qur’an pun banyak mengungkap ciri
orang-orang bertaqwa, diantaranya sebagaimana dinyatakan dalam QS Surah Al
Baqarah ayat 3-5. Demikian juga Al Hadits. Begitupun yang dinyatakan oleh para
Sahabat dan banyak ulama dari generasi
salafush-shalih.
Diantaranya adalah oleh al-Hasan. Al Hasan berkata, “Orang bertaqwa
memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui, yakni: jujur/benar dalam
berbicara; senantiasa menunaikan amanah; selalu memenuhi janji; rendah hati dan
tidak sombong; senantiasa menjaga silaturahmi; selalu menyayangi orang-orang
lemah/miskin; memelihara diri dari kaum wanita; berakhlak baik; memiliki ilmu
yang luas; senantiasa bertaqarrub kepada ALLAH.” (Ibn
Abi ad-Dunya, Al-Hilm, 1/32).
Terkait jujur dalam bicara,
senantiasa menunaikan amanah dan selalu memenuhi janji, Rasulullah SAW pernah bersabda, “ ada empat perkara yang
siapa saja yang termasuk di dalamnya maka dia benar-benar orang-orang munafik,
meski ia sholat atau puasa atau mengklaim dirinya Muslim. Jika ia memilki satu
saja dari empat perkara tersebut maka ia memiliki salah satu tanda kemunafikan hingga ia
meninggalkannya: jika ia berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia ingkari;
jika diberi amanah, ia khianati; jika ia membuat kesepakatan, ia langgar
sendiri,” (Al-Ghazali, Al-Ihya’ III/272).
Terkait taqwa pula, Wahab bin
Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al- Awwam pernah menulis surat yang berisi
nasehat untuk dirinya. Di dalam surat itu dinyatakan, Amma ba’du. Sesungguhnya orang
bertaqwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun
dirinya sendiri, yakni; sabar dalam menanggung derita, ridho terhadap qadha’,
mensyukuri nikmat dan merendahkan diri (tunduk) di hadapan hukum-hukum Al
Qur’an.” (Ibn Al- Jauzi, shifat
ash-Shafwah, 1/170; Abu Nu’aim al-Asbahani, hilya Awilya,1/177).
Muhammad bin Husain juga pernah
menyatakan, “Seorang
mukmin (yang bertaqwa) itu memiliki empat tanda: kata-katanya adalah dzikir;
diamnya adalah tafakur; pandangannya adalah ibrah; dan ilmunya adalah
kebaikan.” (Abu Nu’aim al Asbahani, Hilyah Awliya’, IV/354)
Bertaqwalah kita dengan
sebenar-benarnya takwa hanya kepada ALLAH AZZA WAJALLA, dengan menjalankan
syariatnya secarah kaffah (keseluruhan) sebagaiman ALLAH perintahkan pada
orang-orang yang beriman untuk berislam secara totalitas yakni di surah
Al-Baqarah ayat 208 yang artinya “Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Lihatlah dimasa saat ini dengan sistem KAPITALIS LIBERAL DEMOKRASI yang notabennya adalah hasil pemikiran
orang-orang kafir yang tersesat secara nyata dan mereka sangat jelas
diterangkan dalam AL-QUR’AN mereka adalah penghuni-penghuni neraka, lalu
mengapa saat ini orang-orang yang mengaku ISLAM, yang mengaku bahwa ALLAH
adalah TUHANNYA, yang mengaku RASULULLAH MUHAMMAD adalah UTUSAN ALLAH malah
mengikuti paham-paham kafir tersebut yang begitu sangat nyata kesesatannya.
Dan yang lebih tragis dan
sangat tragis, ketika mereka diseruh untuk IMAN sebenar-benarnya IMAN dan TAKWA
sebenar-benarnya TAKWA kepada ALLAH SWT, untuk Mengembalikan Kehidupan Islam
dengan penerapan syariat ALLAH secara totalitas (kaffah) melalui sebuah
INSTITUSI yakni DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH, yang sesuai dengan MANHAJ KENABIAN.
Sebagaimana dalam hadis Rasulullah bersabda “..... dan akan kembali KHILAFAH
yang mengikuti Manhaj Kenabian” (HR. Ahmad). Orang-orang muslim
sendiri yang menolak dan menentang itu, bahkan mereka mengatakan itu adalah
sebuah pemberontakan dan yang lebih mencengangkan mereka mengatakan seruan itu
adalah sesat dan haram. Naudzu billah.
Inilah bukti nyata akan kebenaran ALLAH SWT sebagaimana
firmannya dalam Al-Qur’an Surah Ali-Imran ayat 149 yang artinya “ Wahai
orang-orang yang beriman ! jika kamu menaati orang-orang kafir, niscaya mereka
akan mengembalikan kamu kebelakang (murtad), maka kamu akan kembali menjadi
orang-orang yang rugi”
Dari ayat tersebut, bukankah saat ini kaum muslimin
mentaati (mengikuti) orang-orang kafir dengan menjalankan hampir semua
aturan-aturan mereka, jadi sangatlah jelas orang-orang yang mentaati rang-orang
kafir sungguh mereka telah keluar dari ISLAM (murtad) dan hanya orang-orang
kafir yang menentang Islam sejak diturunkannya kepada Rasulullah sampai saat
ini. Orang-orang yang mengaku muslim malah menentang penerapan syariat ALLAH
secara totalitas dengan beraneka DALIH, ada yang mengatakan bahwa aturan Islam
tidak sesuai zaman lagi, ada juga yang mengatakan bahwa syariat Islam tidak
bisa menyelesaikan Problematika umat saat ini. Na’udzu billah mindzalik.
Inilah bukti dikala mereka telah terkafirkan oleh sistem
KAPITALIS LIBERALIS DEMOKRASI, dimana mereka mengeluarkan statement yang bertentangan
dengan akidah mereka yakni akidah ISLAM. Bukankah
rasulullah mengatakan “ barang siapa yang mengikuti suatu kaum maka sungguh dia
telah menjadi kaum itu “. Inilah bukti dikala orang-orang yang merasa Islam tapi mereka bukanlah
Islam, namun saat ini mereka adalah orang-orang kafir karena telah mengikuti
pemahaman/pemikiran orang-orang kafir.
Dan inilah yang sangat berbahaya dikala kita telah kafir
dihadapan ALLAH tapi kita masih merasa beriman. RENUNGKANLAH !!!!
Masih kurang bukti !!!
Saya tambahkan buktinya : dikala kaum muslim mengimani sebagian isi Al-Qur’an dan
mengingkari sebagian yang lain maka merekalah orang yang sebenarnya kafir,
sebagaimana tercantum dala surah An-Nisa ayat 150 dan 151 yang artinya “150. Sesungguhnya
orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud
memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan
mengatakan : "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami ingkar terhadap
sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil
jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), 151. merekalah orang-orang yang kafir
sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu
siksaan yang menghinakan.
Bukankah didalam Al-Qur’an banyak
hukum-hukum ALLAH yang belum kita laksanakan,
HUKUM PERZINAHAN DAN MENCURI
•
Perempuan yang
berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya
mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah,
dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh
sekumpulan orang-orang yang beriman (AN-NUR:2)
•
Laki-laki
yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai)
pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (AL-MAIDAH: 38)
HUKUM MEMBUNUH
§
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash
berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka,
hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat
suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan
cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang
memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu
keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas
sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(AL BAQARAH :178 )
HUKUM TERHADAP PERUSUH
DAN PENGACAU KEAMANAN
§
Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang
memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah
mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan
bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian
itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka
peroleh siksaan yang besar. (AL-MAIDAH:33)
Dan ingat selama fardhu kifayah belum kita laksanakan maka
selama itu juga kaum muslimin berdosa, maka dari itu rasulullah berpesan dalam
haditsnya “Abu Najih, Al ‘Irbad bin
Sariyah ra. ia berkata : “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan
satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami
bertanya ,"Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang
yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat"
Rasulullah bersabda, "Saya memberi wasiayat kepadamu agar tetap bertaqwa
kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta'at
walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya
barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak
perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah
Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi
geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua
bid'ah itu sesat." (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)
Bid’ah
yang dimaksud disini ialah sesuatu yang diada-adakan tanpa didasari oleh
kebenaran yakni sumber hukum Islam (Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijmah Sahabat dan
Qiyas) artinya dikala apa yang diadakan atau sesuatu yang baru bertentangan
dengan sumber hukum Islam maka itulah yang disebut bid’ah atau sesat dan
sesuatu yang baru dan tidak bertentangan dengan sumber hukum Islam maka itu
boleh dilakukan, tetapi ingat sesuatu yang boleh bisa menuju pada makruh dan
keharaman. Dan Rasulullah menyarankan pada kaum muslimin untuk tidak terjerumus
kepada sesuatu yang mubah (boleh) karena akan dikhwatirkan kaum muslimin
cenderung melakukan yang mubah yang tak ada nilai amal pahala dari sesuatu yang
mubah itu, ketimbang melakukan yang wajib (yang jelas pahalanya bila dikerjakan
dan jelas dosanya bila ditinggalkan) dan sunnah (yang jelas pahalanya bila
dikerjakan dan rugi bila ditinggalkan karena tidak mendapat pahala walaupun
tidak mendapat dosa bila ditinggalkan.
Dari penjelasan di atas,
silahkan anda menyimpulkan sudah bertakwakah
kita saat ini ? Apakah Khilafah sesat atau sebaliknya ?
Selamat menyimpulkan !!!
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Amin....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar